Sunday, August 16, 2009

Pentax Optio WS80 Waterproof


Iseng hari ini membaca beberapa blog di internet untuk mencari referensi tentang gadget terbaru yang ada di pasaran. Dan di salah satu blog yang berjudul Marie Toms Journal, ada banyak artikel tentang gadget-gadget terbaru yang baru muncul.

Salah satu yang menarik perhatian saya adalah sebuah kamera digital baru keluaran dari produsen Pentak yang dilabeli dengan nama Pentax Optio WS80. Dari keterangan yang ada, disebutkan jika kamera ini tahan air hingga kedalaman 1,5 meter dan juga tahan debu. Sangat cocok digunakan bagi para pecinta alam yang banyak melakukan kegiatan di luar ruang.

Direncanakan kamera ini akan di jual resmi bulan September 2009 dengan harga jual di kisaran di $249. Tersedia dalam dua pilihan warna, hitam dengan aksen kuning dan putih dengan aksen ungu.

Labels: , , ,

Thursday, October 30, 2008

Apa Merk HP Anda ???


Pertama saya mau mengaku...kalau pertama kali saya melihat HP secara langsung itu waktu masih kelas 2 SMU tahun 1996. Sebelumnya hanya melihat dari iklan di koran atau majalah saja. HP pertama yang saya lihat itu dari tipe Ericsson GF-388 milik ayah saya (ini juga pemberian dari salah satu rekan ayah saya sih..he..he..) . Di tahun 1996, HP bisa dibilang masih termasuk barang mewah dan hanya sedikit orang yang punya. Kalau saya tidak salah ingat, tahun 1996 harga sebuah HP Ericsson GF-388 sekitar 1,8 juta rupiah dimana harga bensin saat itu masih 600 rupiah/liter

Waktu itu rasanya HP Ericsson GF-388 ini bentuknya kecil sekali, padahal kalau dibandingin dengan HP jaman saat ini...aduhhh..rasanya nih HP lebih cocok buat dipakai ngelempar maling. Layarnya masih model dot matriks 3 baris dengan kemampuan phonebook yang hanya mampu menyimpan 100 nomor. Yang unik, di kemasannya disertakan 2 buah baterai. Karena ternyata untuk men-
charge baterainya, tidak seperti HP model sekarang yang tinggal dicolokin ke chargernya, untuk tipe GF-388 chargernya tidak built-in di HPnya, jadi kita harus mencopot baterainya terlebih dahulu baru kemudian baterainya dipasang di unit charger yang terpisah. Nah selama baterainya di-charge, kita harus menggunakan baterai cadangan agar HP tetap berfungsi he..he..

HP saya sendiri yang pertama adalah dari tipe Nokia 3310 yang termasuk ponsel 5 juta umat saking banyaknya yang punya. Dibeli di awal tahun 2002 seharga sekitar 1,3 juta rupiah. Dengan suara yang masih monophonic serta layar yang masih monokrom. Saat itu banyak teman saya yang mengganti lampu background Nokia 3310nya menjadi warna lain seperti biru, putih atau oranye agar HP tampil beda. Tapi bisa dibilang, Nokia 3310 ini termasuk HP yang sangat bandel karena sudah jatuh beberapa kali aman-aman saja tuh, malah HP saya sampai retak di bagian bawahnya. Selama 2 tahun lebih saya menggunakan HP ini.

Nah setelah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, mulai terpikir untuk mengganti HP Nokia 3310 saya dengan yang agak sedikit lebih bagus. Putar-putar di beberapa toko HP akhirnya pilihan saya jatuhkan pada Nokia 3200 yang ditebus dengan harga sekitar 1,4 juta pada bulan Mei 2004. HP ini sudah mendukung nada polyphonic dan sudah dilengkapi dengan layar warna walaupun masih CSTN 4096 warna. Dilengkapi pula dengan kamera digital (walau fotonya kabur euy gambarnya...) serta fasilitas radio FM. Yang unik dari HP ini adalah casingnya yang terbuat dari plastik bening dilapisi dengan semacam kertas pelapis yang bisa kita ganti-ganti motifnya. Oh iya, HP ini juga mempunyai fitur lampu senter di bagian bawahnya yang berguna di kegelapan malam atau kalau listrik PLN lagi padam Sayang HP ini hanya bertahan sekitar 7 bulan saya pakai karena saya tergoda akan pilihan yang lebih baik.

Nokia 3200 akhirnya saya tukar tambah dengan sebuah Sony Ericsson T630 karena saya tergoda dengan kejernihan suara polyphonicnya. Dibeli sekitar akhir tahun 2004 seharga 1,8 juta rupiah. Sayangnya HP ini tidak dilengkapi dengan fitur radio FM dan juga belum support MP3. Namun tampilannya yang terkesan mewah dengan balutan warna hitam mampu menutupi kekurangannya tersebut. Selain itu layarnya sudah mengunakan jenis TFT 65 ribu warna memberikan tampilan yang lebih tajam. Namun karena sebuah insiden di tengah malam, HP ini hanya bertahan 4 bulan saya gunakan..karena dia mati total setelah tercebur ke dalam lubang toilet kantor


Berhubung tabungan sedang menipis sedangkan saya membutuhkan HP untuk berkomunikasi dengan teman-teman, akhirnya saya putuskan untuk membeli sebuah Nokia 8210 bekas sebagai pengganti sementara HP Soner T630 saya yang malang Cukup dengan harga 400 ribu rupiah, saya sudah bisa membawa pulang sebuah Nokia 8210 bekas namun masih berfungsi dengan baik. Sayangnya kapasitas pengiriman SMSnya yang hanya bisa mengirim maksimal sebanayk 160 karakter membuat saya hanya bertahan sekitar 2 bulan menggunakan HP ini.

Pilihan berganti untuk membeli sebuah Motorola E398 sebagai pengganti si jadul Nokia 8210. Pertimbangannya, selain sudah support MP3, dilengkapi dengan kamera VGA dan layar yang resolusinya cukup tajam, HP ini juga sudah disertai dengan kartu memori 64 MB dan handsfree stereo di paket pembeliannya. Dan semua itu hanya dihargai tidak sampai 2 juta rupiah, tepatnya seharga 1,9 juta rupiah ketika saya membelinya di bulan April 2005. Padahal HP merk lain yang kemampuannya setara ketika itu berada di kisaran harga diatas 2 juta rupiah. Dengan berbagai fiturnya tersebut membuat HP ini mampu bertahan hingga 2 tahun lebih saya gunakan sebelum harus saya ganti karena rusak

Nokia N70 menjadi target saya berikutnya, karena harganya yang tidak terlalu mahal namun sudah bersistem operasi Symbian dan support 3G. Fitur MP3 serta kamera 2 MP menjadi pelengkapnya. HP yang saya beli di bulan Juli 2007 seharga 2,2 jt ini cukup powerful untuk menemani kegiatan saya sehari-hari. Mulai dari telepon, mengirim sms & email hingga mendengarkan musik dan radio membuat saya enggan untuk menggantinya dengan HP lain yang lebih canggih. Belum lagi berlimpahnya software tambahan yang semakin membuat HP ini menjadi multifungsi. Namun setelah 1 tahun bertugas, N70 saya ini pun harus beralih fungsi menjadi HP cadangan.


Ya seiring dengan kepindahan saya ke NSN, maka saya pun mendapat fasilitas HP dari kantor berupa 1 set HP Nokia E61i. Tentunya dikasih HP canggih gak saya sia-siakan dong untuk segera menggunakannya. Alhasil E61i ini sukses menggusur posisi N70 sebagai HP harian. Dengan keyboard QWERTYnya membuat aktivitas sms , email dan chatting semakin nyaman, didukung oleh tampilan layar yang besar dan tajam dengan kemampuan 16 juta warna. Sayangnya tidak ada fasilitas radio FM di HP ini. Namun kapasitas baterainya yang besar membuat daya tahan HP ini sangat powerful, meskipun digunakan untuk mendengarkan MP3 selama berjam-jam. Sebenarnya sih saya lebih berharap dikasihnya yang tipe E71 he..he..sayang belum kebagian..

Tipe HP berikutnya...hmm saya belum tahu nih mau ganti ke tipe apa ??




Labels: , , , , ,

Tuesday, September 23, 2008

Canon PowerShot G10


Yup...akhirnya kamera digital Canon PowerShot G10 diluncurkan oleh pihak Canon pada tanggal 17 September kemarin, meneruskan jejak langkah sang kakak Canon PowerShot G9 yang telah banyak menuai sukses di kancah dunia kamera digital.

Sebagai kamera prosumer dengan kasta tertinggi di deretan kamera digital keluaran Canon, tentunya seri PowerShot G10 ini telah dibekali dengan sederet kemampuan yang mampu membuat para penggunanya berkreasi tanpa batas.

Masih mengusung bentuk konvensional dengan warna hitam yang tidak terlalu jauh berbeda dengan model PowerShot G9, seri PowerShot G10 ini juga telah memiliki kemampuan dalam mengambil gambar dalam modus RAW. Didukung dengan 14,7 Megapiksel CCD sensor berukuran 1/1.7" membuat kualitas gambar yang dihasilkan tidak kalah dengan kamera DSLR.

Penggunaan prosesor terbaru DIGIC 4 menjamin kinerja yang lebih cepat dan kualitas gambar yang lebih baik dari pendahulunya. Lensa wide angle 28 mm dengan kemampuan zoom hingga 5x optical zoom turut memperkuat tipe PowerShot G10 ini.

Untuk mempermudah pengguna dalam mengambil gambar, sebuah LCD berukuran 3" tampil manis di bagian belakang. Selain itu sebuah tombol tambahan diletakkan di bagian atas untuk mempermudah dalam pengaturan eksposure kamera. Dilengkapi pula dengan hot-shoe untuk pemasangan flash eksternal.

Karena kamera ini masih sangat baru..bahkan di situs dpreview.com pun belum ada ulasan hasil tesnya, begitu pula di situs-situs kamera online dalam negeri seperti jpckemang.com dan tokocamzone.com belum mencantumkan berapa harga resmi dari kamera ini. Namun kemungkinan besar berkisar di harga 4-5 juta rupiah, mengingat seri PowerShot G9 sebelumnya dijual dengan kisaran harga 4 juta rupiah.

Terus terang dengan harga yang cukup tinggi tersebut, membuat orang jadi bimbang ketika akan membelinya karena dengan rentang harga yang sama bisa didapatkan sebuah kamera DSLR entry level, sehingga seri PowerShot G10 ini lebih cocok bagi pengguna yang menginginkan kualitas gambar setara DSLR namun tidak ingin direpotkan dengan penggunaan beraneka macam lensa seperti jika menggunakan DSLR.

Kalau pendapat saya pribadi sih...bentuk PowerShot G10 yang cenderung kotak dan konvensional ini agak kurang mantap untuk digenggam, apalagi jika kita juga menggunakan flash eksternal. Akan jauh lebih nyaman jika bentuknya seperti tipe PowerShot S5IS. Tapi terus terang, tipe PowerShot G10 ini adalah sebuah kamera yang bagus, didukung dengan nama besar Canon yang telah malang melintang di dunia kamera selama puluhan tahun...

Labels: ,

Friday, September 19, 2008

Kacaunya Jakarta


Bingung….mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan pikiran saya kalau melihat perkembangan kota Jakarta….yang sumpek, macet, penuh polusi, hobi banjir tiap tahun dan….berantakan he..he…

Kenapa saya jadi bingung, soalnya semakin hari sepertinya kondisi Jakarta makin kacau saja, seperti gak ada perencanaan yang jelas dari instansi terkait bagaimana caranya untuk memperbaiki kondisi Jakarta yang kacau balau ini.

Kalau mau disebutin contoh-contoh betapa kacaunya Jakarta..mungkin bisa jadi satu buah buku sendiri, jadi saya sebutin beberapa aja deh

Misalnya, sekitar bulan Juli lalu di Jl. Dr. Satrio dari arah underpass Casablanca menuju ke arah Mall Ambassador baru dibuat putaran U-Turn baru yang diikuti dengan pelapisan jalan agar mulus kembali. Sesuatu yang saya sambut dengan senang hati..he..he…sayang kegembiraan tersebut tidak berlangsung lama, karena selang seminggu kemudian di tepi jalan sudah ada beberapa galian kabel optic. Selesai pemasangan kabel optic, jalan yang baru diaspal tersebut kembali digali kembali untuk pemasangan instalasi saluran air limbah…ck..ck…ck. Alhasil jalan yang tadinya sudah mulus rapi kembali menjadi sedikit bopeng-bopeng karena setelah proyek galian tersebut selesai, bekas galiannya tidak diaspal sempurna seperti sedia kala.
Kok bisa ya perijinannya kacau begitu, padahal kan mustinya kegiatan seperti pengaspalan dan penggalian jalan musti mendapat ijin dari dinas PU Jakarta ????

Trus masalah lampu lalu lintas, sejak sekitar 1 tahun terakhir di beberapa persimpangan lalu lintas di Jakarta di pasang timer yang berfungsi menunjukkan masih berapa lagi lampu lalu lintas akan menyala merah atau hijau. Suatu solusi yang sangat membantu para pengendara mobil dan motor. Sayangnya, timer yang belum lama dipasang terkadang lebih sering error daripada berfungsi dengan benar..sering saya lihat timer tersebut hanya menampilkan garis putus-putus saja, malah pernah ada yang warnanya jadi bewarna-warni..he..he…belum lagi pemasangannya yang tidak rapi, terlihat dari kabel yang dipasang asal-asalan. Untuk hal ini, Jakarta kalah jauh dari Medan yang lampu lalu lintasnya jauh lebih modern dan rapi….

Busway ??? Hmmm ini sudah masalah klasik…sampai saya sendiri malas mo menulisnya selain berharap kapan ya layanan Busway bisa membaik ???

Banjir ?? Kalau yang ini lebih parah lagi deh..sumpah….gimana pemda DKI mau mengatasi banjir kalau sekedar mengatasi genangan air ketika hujan lebat saja tidak mampu. Gak percaya…coba lewat di Jl. Sudirman (seberang Ratu Plaza) atau lewat Jl. Gatot Subroto (di bawah fly over Kuningan arah Cawang). Setiap hujan lebat, di kedua tempat tersebut selalu berubah seperti sungai kecil..padahal kedua lokasi tersebut berada di jalan protokol….dan sampai sekarang sepertinya belum ada solusinya.

Banjir belum diatasi, pemda Jakarta sudah berencana mau membangun subway di tahun 2009…hmm yakin keretanya ntar gak bakal tenggelam kalo banjir ????

Kalau ada yang mau menambahkan lagi kekacauan yang ada di Jakarta..silahkan lho…

Labels: , , ,

Sennheiser MX-360



Berhubung sekarang saya berangkat ke kantor menggunakan kombinasi transportasi motor dan busway, dan tahu sendirilah bagaimana penuhnya busway koridor 6 (Ragunan – Dukuh Atas) pada saat-saat jam sibuk, terutama saat jam pulang kantor, rasanya saya memerlukan alat penghibur diri untuk membunuh rasa bosan menunggu datangnya busway yang tidak kunjung kosong penumpangnya…

Paling nyaman tentu menunggu sembari mendengarkan musik. Namun rasanya masih agak sayang mengeluarkan uang untuk membeli Ipod yang harganya jarang didiskon itu..he..he...lebih baik saya menggunakan HP Nokia E61i saya saja sebagai MP3 player. Apalagi dengan program PC Suite Nokia, lagu-lagu MP3 saya bisa diconvert ke format M4A yang ukuran filenya cukup kecil. Untuk 41 buah lagu, hanya menghabiskan sekitar 70 MB kapasitas memory eksternal HP. Kompensasinya kualitas suara memang agak sedikit rendah, tapi tidak terlalu menggangu. Di tengah keramaian halte busway, apa perlu mendengarkan lagu dengan kualitas CD ???

Selama ini saya menggunakan Nokia Adapter AD-49 dan earphone Sony MDR E-818 untuk mendengarkan lagu-lagu dari HP saya, namun tiba-tiba minggu lalu earphone Sony saya mati sebelah..hik..hik..kabelnya pasti ada yang putus nih. Akhirnya saya ganti memakai earphone lama dari Nokia, namun hari Senin kemarin earphone Nokia saya pun mati sebelah…waduh kok bisa barengan gini sih rusaknya.

Hmm akhirnya mulai deh berburu earphone baru, karena gak mungkin saya mendengarkan musik dengan earphone yang hanya berbunyi di satu sisi saja, bisa terganggu ntar keseimbangan telinga saya..he…he…

Tertarik dengan earphone Sennheiser, karena kualitasnya sudah sangat terkenal, harganya juga masih terjangkau…lagipula saya juga agak kecewa dengan kualitas earphone Sony sekarang, sepertinya ada sedikit penurunan kualitas dibandingkan beberapa tahun lalu. Dalam hati sebenarnya inginnya earphone merk Shure..cuma harganya itu bisa bikin dompet saya kering kerontang he..he…

Tadinya mau mengambil Sennheiser PX 100, cuma dipikir-pikir kok agak repot ya memakainya kalau lagi di Busway, kalau buat kerja di depan laptop sih oke banget. Akhirnya saya mengalihkan ke yang seri MX, secara dia modelnya earphone dan harganya tidak terlalu mahal. Lihat di salah satu toko dekat kantor, ada Sennheiser MX 360, dijual dengan harga Rp. 170 ribu. Hmm sedikit lebih mahal sih, karena di Bhinneka.com, untuk tipe yang sama hanya dibanderol Rp. 150 rb. Bahkan di forum Kaskus ada yang menjual dengan harga sekitar Rp. 130 ribu saja. Cuma karena malas menunggu barangnya di delivery, akhirnya saya memutuskan membeli dari toko dekat kantor saja. Toh hanya selisih beberapa puluh ribu saja, bisa ditutup dengan cara menghemat jatah makan siang selama beberapa hari he..he…

Sennheiser MX 360 ini dikemas dalam kemasan plastik yang tersegel rapat, di kemasannya tercantum tulisan “International Warranty 2 years”, hmm lama juga garansinya. Karena seri MX ini termasuk kelas entry level dari produk Sennheiser, tidak ada kelengkapan tambahan yang disertakan dalam kemasannya selain 2 set earpad sebagai cadangan. Untuk jack plugnya dilapis dengan lapisan emas untuk mengurangi loss yang timbul.

Pertama saya coba untuk mendengarkan musik di laptop saya…hmm suaranya cukup lumayan bagus, bassnya lumayan kuat, treblenya juga bisa muncul. Jauh lebih bagus daripada earphone Sony saya sebelumnya (he..he..harganya saja sudah beda). Cuma tentu jangan dibandingkan dengan Sennheiser yang tipe diatasnya ya sperti PX 100..karena harga juga menentukan kualitas. Tapi untuk sekedar mendengarkan lagu dari HP ataupun laptop, earphone ini sudah sangat lumayan, value for money lah….

Target berikutnya, mau cari headphone Sennheiser buat dengerin musik dan nonton film di rumah…tapi nabung dulu he..he…

Labels: , ,


View Ori Triputro Widianto's profile on LinkedIn



Add to Technorati Favorites